“TEMAN adalah rezeki.” Ini bukan saya yang mengatakan, saya meminjamnya dari Thomas Ramdhan, bassist Gigi. Kalimat ini seringkali dikatakan Thomas setiap kali ditanya wartawan apa arti teman bagi dia. Saya percaya Thomas benar. Bukankah seringkali teman kitalah yang pertamakali menolong, saat kita mendapat musibah, sebelum keluarga kita mengulurkan tangan?
Jakarta siap menginvasi Surabaya.
Karena itu ketika Yanoel dan Endik membuka pembicaraan di chat room facebook untuk mengumpulkan teman SMPN 6 Surabaya alumni 1979 yang ada di Jakarta, dalam hati saya langsung bertekad untuk datang, meskipun sedang ada pekerjaan yang sulit saya tinggalkan. Pembicaraan yang berawal dari fb itu kemudian berkembang ke teman yang lain, tidak saja melalui fb tapi juga sms dan kontak langsung.
Wiwiek, setelah tahu dari Yanoel langsung mengontak saya. Saya kontak Syaiful Wahman, Hermin, Pipin, Dinur, Onny Amisyah, Sabari Slamet, sedangkan Syaiful mengontak Subiro, Yoyok, Elfana, Yani Sofyan dll. Begitulah kontak itu menyebar seperti virus, cepat dan sangat efektif.
Sementara informasi terus menyebar, Endik dan Yanoel berbagi tugas. Endik mengkoordinasi peserta, Yanoel memesan tempat. Ada beberapa pilihan pada awalnya, Urban Kitchen yang berada di Senayan Citi (biasa disebut Sensi) atau yang di Pacific Place, atau di kafe milik teman Wiwik di Kuningan. Waktunya Sabtu 19 Desember pukul 11.00 sampai pukul 14.00.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, kami menetapkan waktu pertemuan 18 Desember, Jumat pukul 14.00, karena hari itu adalah hari libur nasional. Tempatnya di Urban Kitchen Pacific Place, Sudirman Central Business District (SCBD).
BDD
Bagi yang belum pernah ke Jakarta atau sudah pernah tapi belum pernah ke Urban Kitchen, ada baiknya saya cerita sedikit tentang restoran ini. Urban Kitchen terletak di lantai lima Pacific Place, mall kalangan atas yang terletak di pusat bisnis Sudirman. Dari ketinggian Urban Kitchen kita bisa melihat sepotong lanskap Jakarta, sebab restoran ini memang didesain sedemikian rupa sehingga kita bisa melihat pemandangan dikejauhan. Tapi bukan ini yang istimewa dari Urban Kitchen, yang paling menarik dari restoran ini (mungkin lebih tepat disebut pujasera?) adalah cara pembayarannya.
Lanskap pusat bisnis Sudirman Jakarta di latar belakang.
Setiap pengunjung diberi kartu di pintu masuk mirip kartu kredit tapi ukurannya lebih besar. Kartu itulah yang digunakan untuk memesan makanan dari berbagai stan/restoran yang ada disana. Kita bisa memilih ubi rebus, nasi liwet, nasi bebek, hingga masakan Jepang dan Thailand. Minuman juga sangat beragam, mulai air mineral, aneka jus, dan es teler. Selesai makan kita keluar melalui sederet kasir. Kasir-kasir inilah yang menggesek kartu kita untuk mengetahui apa saja yang kita pesan tadi. Dari situ keluar angka yang harus kita bayar.
Setidaknya ada dua alasan kenapa restoran ini –menurut saya- tepat untuk reuni. Pertama, caranya sangat praktis, semua orang memesan sendiri menu makanan yang ia inginkan lagsung di restoran pilihannya, kedua kita mesti membayar pesanan kita sendiri di kasir, alias BDD (bayar dewe-dewe), he..he... jadi tidak memberatkan siapapun. Kalau kita mau membayari teman kita, tinggal kita minta saja kartunya, lalu lakukan perhitungan di kasir, beres.
Kejutan
Ada 14 orang yang memastikan datang pada pertemuan ini, Yanoel, Endik, Syaiful, Yoyok, Subiro, Hermin, Pipin, Onny Amirsyah, Elfana, Yani Sofyan, Henny (MC saat reuni di Surabaya), Bimo, dan saya sendiri. Sayangnya Onny yang sedang dinas di Jakarta sejak sebulan lalu tidak jadi datang, begitu juga Henny, padahal sampai pagi hari itu saya masih kontak intensif dengan Onny membahas cara mencapai Pacific Place, karena dia tidak tahu jalan ke sana.
Sementara Hermin dan Yani Sofyan yang belum juga memastikan kedatanganya hingga H -1 justru nongol. Tapi penghargaan khusus mesti diberikan pada buat Subiro dan Djunta. Subiro yang kebetulan ada di Jakarta mengundurkan waktu pulangnya khusus untuk menghadiri acara ini, sementara Djunta yang baru datang pagi itu dari Sampit, langsung diajak Bimo ke Pacific Place.
Sebenarnya Sabari Slamet juga lagi ada di Bogor mengikuti pelatihan, sayangnya pada tanggal 17 dia mesti balik ke Turen Malang. Begitu juga Heri Kustono yang tinggal di Bandung tidak bisa datang karena tanggal 17 mesti ke Surabaya menghadiri acara kawinan. Tapi dari fb saya melihat foto Heri hadir di acara pertemuan di rumah Titi Retno di Surabaya pada 20 Desember.
Kembali ke ungkapan “Temen adalah rezeki.” Ungkapan ini langsung terasa efeknya ketika Elfana dan Pipin yang tidak mungkin datang sendiri, disamperi Syaiful dan Yani. Syaiful menjemput Elfana, Yani menjemput Pipin karena rumah mereka sama-sama di daerah Pamulang.
Tidak ada komitmen dan rencana apapun yang diambil dalam pertemuan itu kecuali berbagi kegembiraan bertemu teman lama (Wiwik bahkan tidak tahu satu-persatu siapa yang datang kecuali Dinur, Yanoel, dan saya), tapi ada banyak pertanyaan dari teman-teman Jakarta, akan ada acara apa pada bulan Maret 2010.
Beberapa teman mendengar kabar bahwa alumni kita akan mengadakan reuni ke dua pada saat itu. Saya yang ditanyai Yanoel dan Pipin terus terang saja tidak tahu siapa yang membuat rencana itu, jadi saya bilang untuk masalah ini kita harus menanyakan ke pengurus Pandu Utomo pusat di Surabaya, atau siapapun yang pertama kali menlontarkan gagasan itu.
Jadi begitulah pertemuan kami di Jakarta. Mudah-mudahan ikatan pertemanan kita yang mulai kendur, karena tidak pernah bertemu dan jarang menjalin kontak bisa terajut kembali. Salam. (son andries)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar